Minggu, 28 Februari 2010

Masdar F. Mas'udi, Orang Lokal Visi Global


Di kalangan Nahdliyin (orang-orang NU) pada umumnya, Masdar Farid Mas’udi, baik sebagai seorang kyai maupun sebagai tokoh masyarakat, mungkin agak kurang dikenal dibandingkan tokoh-tokoh besar NU lain, seperti Gus Dur atau Gus Mus misalnya. Kalo dibandingkan dengan Gus Dur, memang nama Masdar bukan apa-apa, tetapi kalau dengan yang lainnya tokoh yang satu ini patut disandingkan. Namanya yang kurang dikenal bukan lantaran ia tak memiliki kontribusi besar atau tak memiliki jabatan yang memadai untuk membuatnya menjadi dikenal. Masdar Farid Mas’udi memang di kalangan terdekatnya lebih dikenal sebagai sosok yang low profile dan sederhana saja.

Masdar sendiri dapat disebut sebagai salah satu tokoh besar muda NU. Kiprahnya di belantika intelektual dimulainya sejak tahun 1980-an ketika ia hijrah ke PBNU dari komunitas mahasiswanya di yogyakarta dan komunitas santrinya di Cilongok, Banyumas. Sedangkan gambaran di dua komunitasnya, Masdar cukup memiliki cerita yang unik. Di tahun-tahun antara 1971-1979, di masa kuliahnya, Masdar bergiat aktif dalam dunia aktifisme mahasiswa di bawah naungan Komisariat PMII Pesantren Krapyak dan IAIN Yogyakarta. Ia menjabat sebagai ketua PMII tahun 1975 dan menjadi Sekjen Lembaga Dewan Mahasiswa tahun 1976-1978. Di akhir tahun 1970-an cerita menarik tentang Masdar dimulai, meski benihnya ditabur di tahun-tahun sejak masa kuliahnya. Sebuah aksi demo masal dari berbagai organisasi dan perwakilan kampus-kampus di kawasan Yogyakarta dan Semarang, membuat Masdar menginap selama lima bulan dua puluh hari di bui Markas Polisi Militer Jateng bersama sembilan pimpinan aktivis lainnya. Sejak saat itu, aktifitas Masdar mulia diawasi oleh pemerintah, mengingat Orba memang begitu kerasnya pada sikap atau tindakan yang tidak sejalan dengannya. Di tahun 1979 ketika Masdar lulus dari IAIN dan kembali ke kampung halamannya, menjalani kehidupan yang telah turun temurun di wariskan pendahulunya di dunia pesantren, ia masih tetap diawasi. Dalam sebuah diskusi dengan yang diselenggarakan pimpinan Ma’arif di kecamatannya, ia dimatai-matai oleh polisi. Merasa ruang geraknya dipersempit, Masdar hijrah ke Jakarta. Tempat pertama yang disinggahi Masdar dalam karirnya masih tak jauh dari komunitas awalnya, masih di dunia pesantren dan NU. Di Misi Islam, sebuah Lembaga Dakwah milik NU, Masdar mulai karirnya dan sempat menjadi asisten Ronggo Sati S.H.. Dan dari sinilah, interaksi dengan tokoh-tokoh penting di PBNU mulai terjalin, meski sebelumnyapun Masdar tentu sudah mengenal baik tokoh-tokoh NU, mengingat dia pernah nyantri di pesantren beberapa kyai besar NU seperti Mbah Ali Maksum Krapyak.

Bicara karir intelektual Masdar sebetulnya tidak bisa lepas dari peran Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Tokoh besar NU satu inilah yang boleh dikatakan membawa Masdar dari kampungnya ke Jakarta, dan menempatkannya di lingkar dunia elit NU.

NU dan Khittah

Kegelisahan Masdar di masa-masa mudanya tentang NU, ternyata juga dirasakan oleh sebagian besar anak muda NU lainnya. Setelah menjadi salah satu partai yang sukses di Pemilu 1955, NU di masa pemerintahan rezim Orba mengalami himpitan yang cukup keras, sebagai partai politik, dari pemerintah. Di samping itu juga peran sebagai organisasi kemasyarakat menghimpit dari sisi lain dengan adanya tuntutan kebutuhan warga nahdliyin di semua bidang. Hal inilah yang sendari awal telah membekali Masdar dengan pengetahuan tentang realita yang sedang terjadi dengan NU. Di tahun 1974, sebuah seminar di pesantren Krapyak bertajuk quo vadis NU diadakan oleh anak-anak muda NU di IAIN dengan mengundang Gus Dur sebagai tokoh muda NU yang representatif bicara soal itu. Di situlah Masdar mulai berkenalan dengan tokoh satu ini, dan kemungkinan besar hal itu juga berlanjut selain karena kemampuan Masdar juga peran nama besar Kyai Ali Maksum yang tentu sangat dihormati Gus Dur. Dan kedatangan Masdar ke Jakarta (di Misi Islam) di tahun 1980, membuat hubungan itu semakin akrab. Bahkan dari sinilah kemudian gagasan NU kembali ke Khittah didesain. Seperti yang dikatakan Masdar dalam wawancara dengan penulis.

“Tahun 1980, ketika saya di Misi Islam, Gus Dur juga menjadi salah satu plotnya di Misi Islam itu. Dan saya mengenal secara pribadi di situ. Mulailah dari Misi Islam, Gus Dur, kemudian ada Dr. Syaefudin , kemudian ada Pak Abdullah Syarwani SH, yang pada waktu itu sebagai wakil direktur di LP3ES, kemudian ada juga pak Drs. Umar Basalim MA, yang pada waktu itu beliau adalah staf ahlinya wakil ketua MPR pada waktu itu, pak Subhan, di situ saya sering ketemu dengan tokoh-tokoh ini. Dan saya sebagai orang termuda, menjadi penghubung aja dan menjadi juru tulisnya. Dan kemudian dari situlah kegelisahan NU di Jogja yang stagnan yang kita bicarakan di Krapyak itu kita lanjutkan di Jakarta ini. Akhirnya muncul kelompok G itu. Kelompok G itu adalah kelompok yang terdiri dari 7 orang, yang sering bertemu di gang G, Mampang, di Rumahnya pak Said Buderi. Dari situlah kemudian ada upaya untuk melangkah menuju NU kembali ke Khittah, dan itu mau Muktamar tahun 1984. Penggantian dari pak Idham ke Gus Dur. Kita sering ketemu, anggotanya Gus Dur, pak Abdullah Syarwani, Pak Amir Syaefudin, kemudian Said Buderi, kemudian pak Yahya Umar, ada juga saudara Slamet Efendi, dan saya. Dan inilah orang-orang yang sering ketemu.”

Dari kelompok G inilah, rumusan NU kembali ke khittah dibuat. Masdar sendiri akhirnya ada dalam kepanitiaan muktamar NU di Situbondo tahun 1984 yang akhirnya memutuskan bahwa NU kembali ke khittah dengan ketuanya Gus Dur.

Dari Misi Islam hingga Dunia LSM

Misi islam membuka ruang untuk Masdar lebih mengembangkan diri lagi dengan lingkungan yang memang menumbuhkembangkan kemampuannya sebagai kader muda NU. Selang beberapa bulan setelah aktif di Misi Islam, Masdar juga menggiatkan dirinya di Jurnal Ekuin, menjadi redaktur di Desk Sosial Politik. Selama dua tahun, 1980-1982, Masdar menjadi wartawan sekaligus redaktur di jurnal ini. Setelah merasa puas di dunia wartawan, atas pengenalannya pada tokoh-tokoh seperti almarhum Kyai Jusuf Hasyim dan tentu juga Gus Dur, Masdar mulai menapaki dunia swadaya masyarakat dengan didirikannya P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) tahun 1983. P3M sendiri pada mulanya adalah sebuah divisi di LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), tepatnya divisi pengembangan pesantren dan masyarakat. Dari divisi ini, karena adanya sambutan yang baik dari pesantren-pesantren NU, maka terbentuklah P3M. Masdar sendiri kala menjadi redaktur pelaksana Jurnal Pesantren miliki P3M dari tahun 1983-1991. Meski tak jauh dari profesi wartawannya baik di Misi Islam maupun di Jurnal Ekuin, di Jurnal Pesantren lingkup kerja yang digeluti Masdar adalah sebuah ruang baru yang memiliki karakter yang berbeda. Jurnal Pesantren selain lebih spesifik dikaitkan dengan dunia pesantren juga memiliki isu-isu yang masuk dalam lingkup kerja P3M sebagai LSM. Dengan bekal pengabdian redaktur di Jurnal Pesantren inilah sepuluh tahun kemudian Masdar terpilih menjadi wakil direktur P3M selama setahun sejak tahun 1993. Di tahun berikut karena kesibukan direktur P3M dan beberapa alasan, akhirnya Masdar ditunjuk menjadi Direktur P3M, dan bertahan dalam beberapa periode kepemimpinan hingga 2009.

Di dunia LSM inilah pemikiran atau ide-ide Masdar ditempa. Dan tak dipungkiri bahwa karya-karyanya muncul setelah ia aktif di dunia ini.

Risalah Zakat hingga Syarah UUD’45

Buku tentang zakat yang digagasnya terbit di tahun 1991, dengan judul “Agama Keadilan: Risalah Zakat/Pajak dalam Islam”, diterbitkan Pustaka Firdaus. Di tahun 2005, setelah mengalami beberapa kali cetak, buku ini terbit kembali di bawah naungan penerbi lain, kali ini Mizan. Judul bukunya pun diganti. Salah satu alasan penting pergantian judul dari buku ini, seperti yang tersirat dalam kata pengantar baru pada buku ini adalah adanya salah pembacaan atas pemikiran Masdar ini, yang biasa disalah pahami bahwa pajak adalah zakat dan zakat adalah pajak. Padahal Masdar secara garis besar tidak ingin mengatakan itu, meski pada taraf aplikasinya batas antara zakat dan pajak kemudian tidak terlihat, tetapi apa yang ingin disampaikan Masdar bukan itu. Ia ingin menyatakan bahwa, antara pajak dan zakat janganlan dipisah-pisah secara nyata seperti yang terjadi saat ini. Zakat dan pajak bisa hadir satu paket dalah kehidupan umat Islam, baik sebagai pemeluk agama maupun warga Negara. Konsepnya inti dari pemikiran Masdar adalah bagaimana upaya umat Islam menjadikan zakat sebagai landasan spiritual dari pajak yang dikelola negara itu. Satu keinginan mulia sederhana sebenarnya, Masdar ingin menjadikan pajak tidak melulu menjadi urusan dunia dengan model pertanggungjawabannya secara duniawi juga, dan juga ia ingin membuat kepatuhan spiritual manusia terkungkung sebatas zakat saja penggunaannya masih tradisional dan memang belum cukup memadai untuk dikatakan sebagai dana penggerak kehidupan umat. Begitulah buku zakat hendak menyatakan diri, sesuai judulnya, “Zakat sebagai Etika Pajak”, pendekatan spiritualistis yang melandasi kehidupan duniawi manusia.

Setelah bukunya yang pertamanya itu hadir, oleh penerbit asal Malaysia, Sister in Islam, pada tahun 2002 buku keduanya “ISLAM & WOMEN’S REPRODUCTIVE RIGHTS” terbit. Satu karya yang cukup digadang-gadang dalam gerakan gender yang sedang marak di Indonesia kala itu. Nafas dari buku ini sebenarnya dapat kita lihat dari aktifitas Masdar di P3M, yang ditahun 90-an cukup gencar selain mengafiliasikan diri dengan isu-isu keadilan, yang dari sini dapat kita lihat karya Zakat Masdar, isu-isu gender juga disentuh dengan hadirnya sebuah divisi di LSM ini, Fiqhun Nisa, orang-orang seperti Lies Markus adalah salah seorang motor dari divisi ini. Dari isu-isu inilah kemudian terlahir buku Islam dan hak-hak reproduksi yang digagas Masdar. Terlihat kehadiran buku ini di tahun 2002 cukup terlambat sebagai buku yang responsif terhadap isu-isu gender di P3M, meski juga di tahun itu juga LSM-LSM yang lain gencar-gencarnya menyuarakan keadilan gender.

Kemudian, sampai buku ketiganya hadir, yang diterbitkan P3M, Masdar tetap memiliki komitmen untuk memperjuangkan gagasan atau ide-idenya, terutama tentang keadilan. Kemiskinan masih menjadi isu sentral dalam bahasan bukunya yang ketiga ini. Buku yang lebih dimaksudkan untuk dibaca dan menjadi pedoman internal NU sesuai judulnya, “Membangun NU Berbasis Masjid dan Ummat”. Persoalan-persoalan kemiskinan dan ketidakadilan pada umat NU menjadi isu penting dalam buku ini, dikolaborasikan dengan isu-isu lain semisal manajemenisasi dan internalisasi keumatan dengan lingkup kerja kemasjidan. Inilah salah satu upaya Masdar untuk menghidupkan selain jejaring keumatan juga pengaktifan masjid-masjid NU. Masdar ingin kembali menghidupkan kembali Masjid-masjid NU, di sisi lain menyangkut juga persoalan identitas dan klaim masjid-masjid NU yang kerap diambil alih oleh umat atau ormas Islam lain.

Cakupan kerja Masdar tak selalu di dunia pesantren dan ke-NU-an, berkutat pada persoalan keumatan hingga hubungan NU dengan Ormas Islam lain, dengan terbitnya buku “Syarah UUD 1945” menunjukkan bahwa Masdar juga memiliki kepedulian terhadap persoalan bangsa secara umum. Meski lahirnya buku ini tidak semata karena hasil kerja Masdar, ada beberapa kontributor lainnya, tetapi tentu ini tetap menjadi tanda penting bahwa ia memiliki perhatian pada persoalan ini. Sesuai namanya, Syarah, buku ini coba membaca kembali UUD 1945 dan memberikannya catatan dengan argumentasi-argumentasi melalui landasan keislaman. Kalau membaca buku syarah ini, kita akan menemukan berbagai dalil, baik dari al-Qur’an maupun hadist, ada juga beberapa rujukan dari kitab-kitab yang dikenal di dunia Islam. Frameworknya memang Islam, tetapi kalo dicermati secara lebih detail, catatan-catatan yang ada di dalamnya bukan melulu untuk umat Islam, bahkan memang bukan. Nilai dan pesan tersirat yang terkandung di dalamnya tetap miliki bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Transformasi Pemikiran di Dunia Pesantren

Dunia Masdar memang tak jauh dari lingkup Islam, pesantren, dan NU. Pemikiran-pemikirannya meski secara umum berkutat pada wacana keislaman, tapi hampir selalu terkait dengan dunia pesantren dan NU. Dan tentu itu wajar sekali, Masdar lahir di dunia pesantren, dididik di lingkungan pesantren dari kecil hingga dia memasuki karir intelektualnya. Hidup Masdar memang sepertinya tak akan lepas dari dunia ini.

Satu hal menarik dari seorang Masdar adalah dunia akademiknya yang dapat dikatakan lokal dengan kapasitas global. Tak pernah dia mengenyam pendidikan luar negeri di sekolah maupun universitas asing manapun, tetapi gagasan dan pemikiran-pemikirannya tak kalah dengan mereka yang lulus dari luar negeri. Ketika wacana sekularisme menjadi trend dibicarakan, Masdar dapat dengan fasih bicara hal itu. Isu-isu gender, pluralisme, kebangsaan, nasionalisme, keadilan, dan isu-isu lainnya. Masdar seperti tak ketinggalan untuk dapat bicara tentang soal-soal yang berkenaan dengan itu.

Dunia pesantren ternyata dapat juga melahirkan orang-orang semacam Masdar, yang tak terkungkung dengan kelokalannya. Bukan berarti lembaga pendidikan tradisional ini tidak memiliki kualitas yang baik, tetapi memang pada umumnya jarang sekali pada masa 1980-an sampai akhir 1990-an, dapat dikatakan dunia ini hidup di dunianya sendiri dan dalam beberapa aspek dapat disebut ketinggalan jaman dalam menanggapi isu-isu zaman. Dan Masdar keluar dari kungkungan itu dan membentuk diri melalui gagasan-gagasannya. Oleh karena itu tidak aneh kalau kerapkali pemikiran Masdar dianggap nyeleneh dan keluar dari pakem dunia pesantren pada umumnya. Sebut saja misalnya, pemikiran Masdar tentang Haji, yang cukup membuat heboh masa 90-an. Ketika bagi orang muslim pada umumnya, terlebih mereka yang hidup di dunia pesantren, urusan haji itu tidak boleh diganggu gugat baik tatacara pelaksanaan hingga waktunya, Masdar dengan gagasan, atas Tragedi Mina, mengusulkan agar pelaksanaan haji tidak hanya dilakukan tiga hari di bulan dzulhijah saja, tetapi bisa dilakukan di tiga bulan haji juga. Satu pemikiran yang kerap disalahpahami bahwa Masdar menganjurkan agar haji bisa dilakukan setiap saat sepanjang tahun. Gagasan-gagasan baru semacam inilah yang membuat Masdar menjadi unik, di samping juga gagasan transformasi zakatnya yang cukup fenomenal pada masanya. Zakat sebagai etika pajak, meski hal ini di beberapa negeri yang mayoritas di huni umat Islam bukanlah hal yang baru, tetapi gagasan Masdar ini adalah sebuah tawaran yang baru di Indonesia. Di Indonesia sendiri, terlebih di dunia pesantren, konsep tentang zakat telah memiliki pakem tetapnya dan tidak bisa diganggu gugat juga. Dan Masdar seperti tidak terima akan hal itu. Kalau konsep zakat dari zaman Nabi hingga sekarang sama saja dan tidak ada perubahan mendasar, sama saja umat Islam melewatkan sesuatu yang sangat penting selama berabad-abad pesan penting dari konsep zakat yang sebenarnya. Bahwa zakat bisa menjadi salah satu jalan keluar memperbaiki persoalan sosial keumatan, secara tidak langsung diabaikan umat Islam begitu saja. Meski ada upaya-upaya ke arah itu, pada kenyataanya itu hanya terjadi di kulit luarnya saja, tak ada perubahan signifikan yang dilakukan.

Tentang hal ini, apa yang digagas Masdar pada dasarnya adalah sebuah lecutan bagi umat Islam secara umum, maupun yang berkutat di dunia pesantren. Bahwa sebenarnya konsep zakat seharusnya memiliki kontribusi besar dalam mengatasi persoalan keumatan. Dari gagasan ini saja sebenarnya terlihat bahwa Masdar telah berjalan satu langkah ke depan sebagai seorang muslim dan seorang yang dididik di dunia pesantren dalam menghadapi problematika yang dihadapi umat. Umat Islam harus tanggap terhadap persoalan-persoalan kehidupan ini, dan Masdar telah melakukan hal itu dengan upayanya membongkar pasang pemikiran dan hasil penafsiran-penafsiran Kalam Tuhan maupun pesan-pesan Rasulullah tentang hal itu. [Kay]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar